Sunday, October 11, 2015

Teori Dalam Cultural Studies

Barker menjelaskan teori dalam cultural studies, yaitu narasi yang berusaha membedakan dan menjelaskan ciri-ciri umum yang menjabarkan, mendefinisikan dan menjelaskan terus-menerus kejadian yang dipersepsikan.  Tetapi teori tidak menggambarkan dunia secara akurat, namun ia adalah alat, instrumen, atau “logika untuk mengintervensi dunia” melalui mekanisme deskripsi, definisi, prediksi, dan kontrol. Dalam cultural studies, teori menempati posisi tinggi, yakni sebagai penunjuk jalan atau peta budaya yang memandu[16]. Teori memandu peneliti cultural studies untuk menceburkan diri ke dalam alam realita untuk dilakukan pembacaan-mendalam, dan bertujuan merumuskan teori dan tindakan (praksis) yang bersifat emansipatoris.

Dan menilik karakternya sebagaimana telah dideskripsikan di atas, maka cultural studies menggunakan berbagai teori dan konsep untuk menjelaskan dan memahami berbagai realitas sosial kontemporer. Beberapa teori yang dapat digunakan dalam cultural studies sebagaimana dikumpulkan oleh Akhyar Yusuf Lubis dalam buku “Dekonstruksi Epistemologi Modern”[17], diantaranya, adalah:

Semiotika (Roland Barthes)
Teori ini memahami aspek budaya melalui semiotika, dengan melihat budaya sebagai tanda. Teori ini digunakan dalam penelitian yang bersifat lokal, etnis dan subkulktur[18].

Habitus (Pierre Bourdieu)
Habitus adalah struktur mental atau kognitif, yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial budaya. Atau, dalam pengertian Ritzer, yang dikutip Lubis, habitus adalah konstruksi dunia sosial, struktur sosial yang diinternalisasikan dan diwujudkan. Ia mencerminkan posisi sosial, kebiasaan yang terdapat  pada kelas atau kelompok sosial[19].

Teori Industri Budaya (Walter Benyamin)
Teori ini memandang industri budaya sebagai produksi mekanis budaya yang disebarluaskan melalui media cetak dan elektronik[20].

Teori Hegemoni (Antonio Gramsci)
Teori ini berfokus pada kajian tentang negosiasi penguasa dengan kelompok budaya tandingan menuju landasan budaya dan ideologi yang bisa membuatnya mendapatkan posisi kepemimpinan. Hegemoni adalah upaya bagaimana kelompok penguasa dapat mensubordinasi dan tetap dapat mempertahankan status quo[21].

Teori Pendidikan Kritis (Paulo Freire)
Teori ini, yang merupakan cultural studies di bidang pendidikan, mengritik model pendidikan yang disebutnya sebagai bergaya bank. Teori ini berpengaruh besar pada dunia pendidikan[22].
Sementara itu, beberapa pendapat lain seperti John Storey dan Mark Bracher mengemukakan masing-masing teori kultural (Cultural Theory) yang dirumuskan oleh Raymond William[23], dan Teori Subjektivitas Psikoanalisis, yang diperkenalkan oleh Jacques Lacan[24], beserta variannya, Neo Lacanian, yang dikembangkan oleh Slavoj Zizek[25] dan Yannis Stavrakakis[26].

Patut dicatat, bahwa teori dalam cultural studies, adalah teori digunakan untuk memandu awal peneliti untuk kemudian digunakan untuk merumuskan teori (baru) sehingga memunculkan banyak teori baru yang selaras dengan keluasan bidang telaah cultural studies.

Konsep

Representasi
Unsur utama cultural studies, menurut Barker, adalah praktik pemaknaan atas representasi, yaitu bagaimana dunia ini dikonstruksi dan direpresentasikan secara sosial. Untuk ini diperlukan eksplorasi pembentukan makna tekstual. Representasi dan makna budaya memiliki materialitas tertentu, yang melekat pada bunyi, prasasti, objek, citra, buku, majalah, dan program televisi. Mereka diproduksi, ditampilkan, digunakan dan dipahami dalam konteks sosial tertentu[27].

Identitas
Dalam cultural studies, identitas adalah konstruksi budaya, yakni konstruksi tentang bagaimana seseorang itu menjadi orang, bagaimana kita diproduksi sebagai subjek dan bagaimana kita menyamakann diri kita (atau secara emosional) dengan  gambaran sebagai laki-laki, perempuan, hitam, putih, tua, muda, dsb. Wacana yang membentuk bahan-bahan untuk formasi identitas tersebut bersifat kultural. Secara khusus, subjek dikonstitusikan sebagai individu dalam sebuah proses sosial yang secara umum dipahami sebagai akulturasi yang tanpa itu, kita tidak dapat menjadi seseorang. Konsep identitas sebagai konstruksi diskursif budaya yang spesifik didasari oleh sikap anti-representasional dalam memahami bahasa, dimana wacana mendefinisikan, mengonstruk dan memproduksi objek pengetahuan[28].

Kesimpulan
satu
Cultural studies, atau  disebut mazhab Birmingham (tokoh: Richard Hoggart dan Stuart Hall), adalah sebuah pemikiran perlawanan terhadap gagasan universalitas dan narasi besar seperti ditawarkan teori modernisasi dan terhadap budaya massa atau budaya pop (popular culture), dengan studi budaya sebagai instrumen untuk melakukan perubahan.

dua
Cultural studies hadir untuk  memahami realita budaya sekaligus mengubah struktur dominasi dan struktur masyarakat yang menindas dan bertujuan untuk merumuskan teori-teori sekaligus tindak praksis yang bersifat emansipatoris.

tiga
Cultural studies memusatkan perhatian pada masalah isu-isu kekuasaan, politik, ideologi, serta kebutuhan akan perubahan sosial.

empat
Ruang lingkup cultural studies meliputi kebudayaan, budaya massa (popular), ideologi, makna dan pengetahuan, linguistik, diskursus, post-modernisme, feminisme, politik, politik identitas, politik budaya, globalisasi, media, dan subkultur. Ia meneliti atau mengkaji berbagai kebudayaan dan praktik budaya serta kaitannya dengan kekuasaan dan produksi pengetahuan dalam arena dan konteks kebudayaan yang luas.

lima
Metode cultural studies secara keseluruhan adalah kualitatif, dengan pendekatan etnografi, tekstual dan berfokus pada makna budaya. Prinsipnya, ia menggunakan metode berpikir dinamis, kontekstual, plural dan lokal dan menghindari model berpikir linear, dualis dan statis.

enam
Teori cultural studies menempati posisi tinggi, yakni sebagai penunjuk jalan atau peta budaya yang memandu peneliti cultural studies untuk menceburkan diri ke dalam alam realita untuk dilakukan pembacaan-mendalam, dan bertujuan merumuskan teori baru dan tindakan (praksis) yang bersifat emansipatoris.***


Referensi yang digunakan dari Chris Barker, Chris Barker dan Dariusz Galasinski, Mark Bracher, Simon During, Stuart Hall, Akhyar Yusuf Lubis, Tony Myers, Slavoj Zizek, Paula Saukko, James Spradley, Yannis Stavrakakis, dan John Storey.
________________________________
back to Metode Dalam Cultural Studies